Jurnas.net - Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Banyuwangi tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi momentum untuk memperlihatkan bagaimana kabupaten ini membangun ekosistem inklusi yang hidup. Beragam kegiatan digelar, mulai konvoi safety riding, pertandingan sepak bola amputasi, hingga panggung apresiasi sebagai bentuk pengakuan dan ruang ekspresi bagi para penyandang disabilitas.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan komitmennya untuk menjadikan Banyuwangi sebagai “rumah aman dan ramah bagi semua”, dengan kebijakan inklusif yang terus diperkuat bersama masyarakat dan komunitas disabilitas.
“Banyuwangi adalah rumah yang aman bagi semua. Kami akan terus membuka ruang seluas-luasnya bagi para disabilitas melalui kebijakan yang inklusif dan berbasis aspirasi,” kata Ipuk, saat melepas peserta konvoi ditulis, Selasa, 2 Desember 2025.
Peringatan HDI dimulai dengan pawai kendaraan dari Terminal Pariwisata Terpadu Sobo menuju SLBN Banyuwangi. Ratusan peserta mengenakan seragam oranye, warna solidaritas disabilitas melintasi Taman Makam Pahlawan dan Stadion Diponegoro.
Konvoi ini diikuti berbagai organisasi disabilitas, antara lain DMI (Disable Motorcycle Indonesia), Pertuni, PPDI, Gerkatin, Taliwangi, paguyuban orangtua disabilitas, dan komunitas lainnya.
Bupati Ipuk menegaskan bahwa inklusi bukan hanya tentang kegiatan, tetapi memastikan layanan dasar terbuka dan mudah diakses. Di bidang pendidikan, Pemkab mengembangkan program sekolah inklusif agar peserta didik berkebutuhan khusus dapat belajar di sekolah umum bersama teman-temannya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, di sela melepas konvoi dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI). (Humas Pemkab Banyuwangi)
Di ketenagakerjaan, Pemkab rutin membuka job fair dengan ribuan peluang kerja, termasuk formasi untuk penyandang disabilitas. Di pemberdayaan ekonomi, pemerintah memberikan pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas, termasuk ibu rumah tangga, sebagai upaya meningkatkan kemandirian ekonomi.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap disabilitas di Banyuwangi memiliki ruang hidup yang produktif dan bermartabat,” tegas Ipuk.
Salah satu terobosan penting Banyuwangi adalah melibatkan langsung komunitas disabilitas dalam perumusan program daerah melalui forum “Rembug Disabilitas”. "Kami menggali aspirasi mereka agar kebijakan daerah benar-benar mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas,” ujar Ipuk.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, di sela memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI). (Humas Pemkab Banyuwangi)
Ketua Forum Peduli Disabilitas Banyuwangi, Umar, menyambut baik langkah tersebut. “Kami sangat berterima kasih karena diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi. Ini jarang terjadi di daerah lain,” ujarnya.
Selain konvoi, rangkaian HDI juga menampilkan sepak bola amputasi, yang diikuti para penyandang tuna daksa, hingga pertunjukan seni seperti pantomim, lantunan Al-Qur’an oleh teman netra, dan nyanyian oleh penyandang tuli-wicara. Panggung apresiasi ini membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang kreativitas.
Banyuwangi pun menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan komitmen inklusi paling nyata di Indonesia, dengan pendekatan berbasis komunitas dan kebijakan partisipatif.
Editor : Andi Setiawan