Jurnas.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tancap gas mempercepat pembangunan infrastruktur jalan pada periode 2026–2027. Tak sekadar membuka akses, proyek ini dirancang sebagai strategi menggerakkan ekonomi warga sekaligus memperluas konektivitas kawasan permukiman hingga destinasi wisata.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa pembangunan jalan bukan hanya soal fisik, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan akses dan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sejumlah proyek prioritas yang akan digarap di antaranya pembangunan akses jalan dari kawasan Wiyung menuju Lidah, serta lanjutan jalur dari Banyu Urip, Jembatan Raci hingga perbatasan Kabupaten Gresik. Infrastruktur ini diharapkan mampu mengurai keterisolasian wilayah sekaligus membuka titik-titik pertumbuhan ekonomi baru.
“Ketika jalan ini terkoneksi, masyarakat tidak lagi merasa terputus. Bahkan kawasan yang sebelumnya hanya permukiman bisa berkembang menjadi pusat usaha dan ekonomi baru,” kata Eri, Senin, 6 April 2026.
Tak hanya fokus pada jalur utama, Pemkot juga menaruh perhatian pada akses menuju destinasi wisata. Sejumlah kawasan seperti Taman Harmoni Surabaya, Kebun Raya Mangrove Surabaya, hingga Taman Hiburan Pantai Kenjeran akan diprioritaskan mendapatkan akses jalan yang lebih memadai.
Menurut Eri, selama ini sejumlah destinasi tersebut belum didukung akses transportasi dan jalan yang optimal. Padahal, potensi kunjungan wisata sangat besar jika didukung konektivitas yang baik. “Kalau akses jalan dan transportasi umum masuk, maka kunjungan meningkat. Dampaknya langsung terasa ke ekonomi warga sekitar,” jelasnya.
Ia menekankan, setiap pembangunan yang dilakukan harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar proyek yang bersifat simbolik atau mengejar popularitas.
“Pembangunan itu harus bermanfaat. Kalau tidak berdampak ke masyarakat, untuk apa dilakukan?,” tegasnya.
Eri mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur saat ini merupakan tahap lanjutan setelah sebelumnya Pemkot fokus pada penguatan sumber daya manusia dan penanganan kemiskinan. Dengan kombinasi pembangunan manusia dan infrastruktur, Pemkot optimistis angka kemiskinan di Kota Surabaya dapat terus ditekan secara berkelanjutan.
“Sekarang waktunya infrastruktur kita kebut. Harapannya, ini menjadi pengungkit agar masyarakat yang sudah keluar dari kemiskinan bisa terus bertahan dan berkembang,” pungkasnya.
Editor : Rahmat Fajar